Kamis, April 2, 2026
BerandaSULAWESI UTARAMANADOLangkah Srikandi di Dunia Pers: Sintya Bojoh Ukir Sejarah di PWI Sulut

Langkah Srikandi di Dunia Pers: Sintya Bojoh Ukir Sejarah di PWI Sulut

Berita-BMR.com | Manado – Di sebuah ruang sidang yang penuh dinamika dan demokratis, menjadi suatu kisah lahirnya sosok baru dalam organisasi kewartawanan, tetapi juga harapan, sejarah kecil itu akhirnya ditulis.

Aula Kantor Wali Kota Manado, pada Selasa, 31 Maret 2026, menjadi saksi lahirnya babak baru bagi dunia pers di Bumi Nyiur Melambai yang dipimpin sosok perempuan yang cantik, pintar dan energik.

Nama Sintya Nidya Christin Bojoh menggema di antara deretan kursi peserta Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Utara. Perempuan yang dikenal sebagai wartawan SCTV itu resmi terpilih sebagai Ketua PWI Sulut periode 2026–2031—sebuah capaian yang tak hanya personal, tetapi juga simbolik.

Dengan raihan 145 suara dari total 261 pemilih, Sintya mengungguli dua kandidat lainnya, yakni Merson Simbolon yang memperoleh 109 suara, serta John Paransi dengan 4 suara. Sementara itu, tercatat 3 suara dinyatakan tidak sah. Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan representasi kepercayaan yang dititipkan oleh insan pers Sulawesi Utara.

Namun lebih dari sekadar kemenangan, momentum ini menghadirkan makna yang lebih dalam.

Sintya menjadi “wewene” (Perempuan) atau srikandi pertama yang memimpin PWI Sulut, sebuah tonggak yang menandai terbukanya ruang kepemimpinan perempuan dalam organisasi pers yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki.

Proses pemilihan berlangsung demokratis, transparan, dan penuh dinamika. Namun justru dari dinamika itulah terlihat kedewasaan organisasi. Setiap perbedaan pandangan berujung pada satu titik temu: komitmen bersama untuk menjaga marwah pers, menjunjung independensi, serta memperkuat profesionalisme di tengah arus perubahan zaman.

Dalam pidato perdananya, Sintya tak sekadar berbicara tentang jabatan, tetapi tentang tanggung jawab besar yang kini berada di pundaknya. Ia menyoroti tantangan era digital yang semakin kompleks, di mana informasi mengalir tanpa batas, sering kali tanpa verifikasi.

“PWI harus hadir sebagai pelindung marwah pers. Wartawan tidak hanya dituntut profesional, tetapi juga berani menyuarakan kebenaran serta berpihak pada kepentingan publik,” ujarnya dengan nada tegas.

Bagi Sintya, masa depan pers tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga ketepatan. Ia menegaskan pentingnya membangun kualitas sumber daya manusia wartawan melalui pelatihan, sertifikasi, hingga penguatan kode etik jurnalistik. Di tengah maraknya informasi yang simpang siur, kepercayaan publik menjadi aset yang tak ternilai—dan harus dijaga dengan integritas.

Kehadiran Sintya di pucuk kepemimpinan PWI Sulut membawa harapan baru. Bukan hanya tentang perubahan struktur organisasi, tetapi juga tentang perubahan cara pandang. Bahwa pers bukan sekadar penyampai kabar, melainkan penjaga nalar publik dan pengawal demokrasi.

Di ruang sidang itu, tepuk tangan pun bergema. Bukan sekadar untuk seorang pemenang, tetapi untuk sebuah harapan: bahwa di tangan generasi dan perspektif baru, pers Sulawesi Utara akan melangkah lebih tegap—lebih berani, dan lebih bermakna.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular